Isnin, Mei 09, 2011

ETIKA PROFESI DALAM KERANGKA ETIKA



A. Pentingnya Etika Profesi
Selama ini ada sebuah pernyataan yang sering ditanyakan, “Banarkah etika profesi itu penting?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka terlebih dahulu harus melihat manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki dua kecenderungan yang dianugrahakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, yaitu kecenderungan pada kebaikan dan kecenderungan pada keburukan.

Ketika kecenderungan pada kebaikan yang lebih dominan, maka etika kurang bahkan tidak memiliki peran yang signifikan, ia hanya mengiyakan saja apa yang dilakukan manusia. Tetapi ketika kecenderungan pada keburukan yang lebih dominan, maka di sinilah, etika harus memberikan peran yang lebih serius lagi. Karena ketika kecenderungan ini mendominasi manusia tidak hanya akan melanggar etika atau etika profesi, bahkan suara hatinya yang terdalampun tidak akan hiraukannya lagi.
Ada beberapa faktor yang membuat kecenderungan pada keburukan yang lebih dominan sehingga manusia melanggar etika, di antaranya:

1. Kebutuhan hidup; ini merupakan faktor utama penyebab terjadinya tindakan tidak etis karena tidak tercukupinya kebutuhan pribadi dalam kehidupan.
2. Tidak ada pedoman; tidak punya penuntun hidup sehingga tidak tahu bagaimana melakukan sesuatu.
3. Perilaku dan kebiasaan individu; perilaku kebiasaan individu tanpa memperhatikan faktor lingkungan dimana individu tersebut berada.
4. Lingkungan yang kurang kondusif; seringkali kondisi lingkungan membuat manusia

mengikuti pola yang ada di dalamnya, jika lingkungan kurang baik maka akan menjadikan pribadi di dalamnya seperti itu pula, dan begitu pula sebaliknya.
Karena itu, untuk membatasi kecenderungan manusia pada keburukan, maka etika harus difungsikan kembali. Martin mendefinisikan etika sebagai “the discpline which can act as the performance index or reference for our control system”. Pernyataan tersebut, merupakan pengertian etika dilihat dari fungsi dan perannya. Karena etika memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya. Dengan demikian, lebih khusus lagi, etika bisa dikaitkan sebagai seni pergaulan manusia.

Etika tersebut, pada kalangan masyarakat umum kemudian diwujudkan dalam bentuk aturan (code) yang tertulis maupun tidak tertulis. Sedangkan bagi kalangan professional etika tersebut diwujudkan dalam bentuk aturan (code) yang tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Dengan demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.

Selanjutnya, karena kelompok profesional merupakan kelompok yang berkeahlian dan berkemahiran yang diperoleh melalui proses pendidikan dan pelatihan yang berkualitas dan berstandar tinggi yang dalam menerapkan semua keahlian dan kemahirannya yang tinggi itu hanya dapat dikontrol dan dinilai dari dalam oleh rekan sejawat, sesama profesi sendiri. Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat “built-in mechanism” berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan kehlian (Wignjosoebroto, 1999).

Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya. Tanpa etika profesi, apa yang semua dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan segera jatuh terdegradasi menjadi sebuah pekerjaan pencarian nafkah biasa (okupasi) yang sedikitpun tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan berakhir dengan tidak-adanya lagi respek maupun kepercayaan yang pantas diberikan kepada para elite profesional ini.

B. Etika Deskriptif, Normatif, dan Metaetika
Secara umum etika, bisa dikelompokan dalam tiga katagori, yaitu etika deskriptif, etika normatif, dan metaetika (K. Berten: 2005). Sedangkan menurut para penulis lain dikelompokan dam dua katagori, yaitu etika deskriptif dan etika normatif saja (A. Sonny Keraf: 2005).

1. Etika Deskriptif
Etika deskriftif merupakan etika yang berbicara tentang suatu fakta, yaitu: a) nilai dan pola perilaku manusia terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya dalam kehidupan masyarakat, dan b) menyoroti secara rasional dan kritis tentang apa yang diharapkan manusia mengenai sesuatu yang bernilai.

Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral secara secara luas, misalnya adat istiadat, kebiasaan, pandangan baik dan buruk, tingkahlaku yang diperbolehkan atau dilarang. Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu, masyarakat, dan kebudayaannya. Dalam etika deskriftif, subyek tidak memberi penilaian, dia hanya menggambarkan saja. Seperti, ketika dia menggambarkan kebiasaan minum tuak atau prostitusi pada masyarakat tertentu, penggambaran tersebut tanpa diikuti penilaian benar atau salah. Sekarang ini etika deskriftif dijalankan oleh ilmu-ilmu sosial, seperti antropologi, sosiolgi, psikologi, sejarah, dan yang lainnya.

2. Etika Normatif
Etika normatif menjelaskan tentang norma-norma yang menjadi rujukan dalam bertindak, yaitu: a) penilaian dan himbauan kepada manusia tentang bagaimana harus bertindak sesuai dengan norma yang berlaku, dan b) berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai.
Dalam etika normatif ini, subyek yang bersangkutan tidak bertindak sebagai penonton netral, tetapi dia melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian tentang prilaku individu, masyarakat, dan kebudayaannya. Seperti, kebiasaan minum tuak harus ditolak, karena ia dapat menghilangkan kesadaran manusia dan merusak organ tubuhnya. Begitu juga dengan prostitusi, iapun harus ditolak, karena bertentangan dengan martabat manusia. Penilaian tersebut dibuat atas dasar norma-norma. “Martabat manusia harus dipelihara dan dihormati” dapat dianggap sebagai contoh norma tersebut. Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa etika normatif tidak deskriptif, melainkan preskriptif (memerintahkan). Dia tidak menggambarkan, tetapi menentukan benar tidaknya suatu perbuatan. Etika normatif bertujuan merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan dapat dipergunakan dalam praktek.

3. Metaetika
Pendekatan ketiga dalam mempraktekan ilmu etika adalah metaetika. Kata meta- (bahasa Yunani) memiliki arti “melebihi” atau “melampaui”. Istilah ini menunjukkan bahwa yang dibahas dalam metaetika bukanlah momalitas secara langsung, melainkan produk dari etika normatif, seperti pernyataan-pernyataan etika.
Ada beberapa kajian dari metaetika, yaitu: 1) Kajian tentang aneka karakteristik (hakekat) etika. 2) Kajian tentang metode, bahasa, struktur logika, penalaran yang digunakan untuk tiba pada dan membenarkan membenarkan keputusan moral dan pengetahuan. 3) Kajian tentang sumber, makna, dan justifikasi dari pencarian dan penilaian etika. 4) Kajian apakah etika itu dan bagaimana, sebagai lawan dari (a) apa yang disebut dengan etika subtantif, seperti utiltarianisme, hedonisme, atau stoisme, yang menyebutkan secara umum apakah yang baik itu, dan (b) etika normative yang mempelajari dan menguraikan apa yang harus dilakukan seseorang, bagaimana seseorang harus bertindak berdasarkan prinsip-prinsip moral.

C. Etika Umum dan Khusus
Untuk mengetahui kedudukan etika profesi Etika normatif terbagi menjadi dua, yaitu etika umum dan etika khusus. Etika umum, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Tema-tema seperti itulah yang menjadi obyek penyelidikan etika umum. Etika umum juga dapat disebut sebagai ilmu atau filsafat moral yang membahas mengenai pengertian umum dan teori-teorinya.

Etika khusus, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Dalam hal ini, etika sebagai refleksi kritis rasional melihat dan merefleksi kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada norma dan nilai moral yang ada di satu pihak dan situasi khusus dari bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan setiap orang atau sekelompok orang dalam suatu masyarakat.
Penerapan ini bisa berwujud: Bagaimana saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang saya lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar. Namun, penerapan itu dapat juga berwujud : Bagaimana saya menilai perilaku saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis: cara bagaimana manusia mengambil suatu keputusan atau tindakan, dan teori serta prinsip moral dasar yang ada dibaliknya.
Etika khusus kemudan dibagi lagi menjadi tiga bagian, yaitu: etika individual, etika sosial, dan etika lingkungan. Tapi, ada juga beberapa penulis yang membaginya dua bagian saja, yaitu: etika individual dan etika sosial.
Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban, sikap, dan pola prilaku manusia terhadap dirinya sendiri termasuk juga kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ada beberapa macam etika individual, di antaranya: 1) etika beribadah, 2) etika berdo’a, 3) etika makan, 4) etika tidur, dan 5) etika di kamar mandi.

Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia ketika berhubungan dengan yang lain. Perlu diperhatikan bahwa etika individual dan etika sosial tidak dapat dipisahkan satu sama lain dengan tajam, karena kewajiban manusia terhadap diri sendiri dan sebagai anggota umat manusia saling berkaitan. Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara langsung maupun secara kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap kritis terhadap pandangan-pandangan dunia dan idiologi-idiologi yang ada. Karena luasnya masalah sosial, maka etika sosial ini terbagi atau terpecah menjadi banyak bagian atau bidang. Dan pembahasan bidang yang paling aktual saat ini adalah sebagai berikut: 1) etika terhadap sesama, 2) etika keluarga, 3) etika profesi, 4) etika politik, 5) etika ideology, 6) etika diskusi/debat, dan 7) lain-lain.

Etika lingkungan membahas kewajiban, sikap, dan pola prilaku manusia serta tanggungjawabnya terhadap lingkungan, baik kepada binatang, tumbuhan, maupun alam sekitarnya. Pola hubungan manusia dengan lingkungan perlu diatur secara lebih serius lagi. Ini terutama melihat prilaku manusia terhadap alam yang cenderung sewenang-wenang sehingga berdampak negatif terhadap alam dan juga terhadap manusia itu sendiri. Pemanasan global merupakan salah satu contoh dari prilaku sewenang-wenang terhadap alam. Karena itu etika lingkungan perlu dirumuskan dan dijadikan etika bagi mereka yang bekerja dengan alam sebagai obyeknya.

Menurut A, Sonny Keraf, etika lingkungan bisa masuk dalam cabang etika sosial dan bisa masuk juga dalam etika lingkungan. Etika ini masuk dalam cabang dari etika sosial sejauh menyangkut hubungan manusia dengan manusia yang berdampak pada lingkungan. Dan bisa berdiri sendiri sebagai etika lingkungan sejauh menyangkut hubungan antara manusia dengan lingkungannya.

D. Kedudukan Etika Profesi dalam Kerangka Etika
Dari sistematika di atas, bisa dilihat bahwa etika profesi merupakan bidang etika khusus atau terapan yang merupakan produk dari etika sosial. Sebagai bagian dari etika khusus, maka etika profesi memiliki cakupan yang sangat luas sesuai dengan profesi masing-masing, karena hampir setiap profesi dapat mengembangkan etikanya sendiri. Untuk sekarang ini baru ada beberapa etika profesi, seperti etika profesi IT, etika profesi sekretaris, etika profesi akuntan, etika profesi wartawan, etika profesi dokter, etika profesi dosen/guru, dan lain-lain.

Dalam etika profesi/terapan, banyak sekali topik yang dibahas di dalamnya. Untuk menciptakan kejernihan dalam pokok permasalahan ini, maka pokok permasalahannya dapat dikelompokan dalam dua katagori, yaitu: 1) Etika profesi dapat menyoroti suatu profesi atau suatu masalah. Contoh etika profesi yang mebahas suatu profesi,seperti: etika kedokteran, etika politik, etika bisnis, dan sebagainya. Contoh yang membahas masalah-masalah tertentu, seperti: penggunaan tenaga nuklir; pembuatan, pemilikan, dan penggunaan senjata nuklir, pencemaran lingkungan hidup, dan diskriminasi dalam segala bentuknya (ras, agama, jenis kelamin, dan lain-lain).

Cara lain untuk membagikan etika terapan adalah membedakan antara makroetika, mikroetika, dan mesoetika. Makroetika membahas masalah-masalah moral pada skala besar, artinya, masalah-masalah ini menyangkut suatu bangsa atau bahkan seluruh umat manusia; ekonomi dan keadilan (seperti, utang negara-negara selatan terhadap negaar-negara utara); lingkungan hidup, dan alokasi sarana pelayanan kesehatan. Mikroetika membicarakan pertanyaan-pertanyaan etis dimana individu terlibat, seperti kewajiban dokter terhadap pasiennya atau kewajiban pengacara terhadap yang yang berkaitan dengan suatu kelompok atau profesi, misalnya, kelompok ilmuwan, profesi kliennya seperti, kewajiban mengatakan yang benar, kewajiban menyimpan rahasia jabatan, dan sebagainya). Diantara makroetika dan mikroetika, disisipkan lagi mesoetika (awalan meso- berarti madya). Kalau begitu, mesoetika menyoroti masalah-masalah etis wartawan, dan sebagainya.

4 komentar:

raih berkata...

etika..
Tapi kenapa seorang yang beretika pun terkadang lupa akan makna etika yang sesungguhnya??

Tanpa Nama berkata...

oke.terima kasih banyak
sangat membantu menyelesaikan tugas sy

cara merawat payudara berkata...

Semua berita yang ada di website anda sangat menarik perhatian untuk di simak, salam sehat. . . !! Semoga beritanya dapat bermanfaat! share ya gan, thanks nih!!

Unknown berkata...

terimakasih atas info nya tugas saya jadi selesai berkat tulisan ini terimakasih tong fag

Catat Ulasan

 
Design by yusup doank | Bloggerized by yusup doank juga | coupon codes